Terserah. Satu kata yang punya banyak makna pragmatis. Kata ‘terserah’ itu
menjadi semacam mitos yang tidak bisa terungkap, maknanya sudah bukan lagi
ambigu malah multiple. Kita seringkali
mengidolakan ‘terserah’ saat putus asa, pasrah, atau saat terlalu banyak
pilihan yang kita sangat malas untuk berpikir dan menentukan.
Terserah itu bukannya
terlalu buruk untuk diucap, terserah adalah istilah yang sangat pas ketika
ingin mempersilahkan orang lain memberikan keputusan tanpa campur tangan kita
lagi dan kita hanya menurut saja, atau dengan kata lain hanya untuk hal-hal
sepele dan tidak prinsip. Tapi tentunya tidak setiap saat begitu adanya. Tidak
sedikit yang setelah berkomentar ‘terserah’, kemudian disarankan sesuatu, malah
berbalik mengkritik dan justru tidak setuju. Sampai akhirnya kita tersentak, “loh
tadi katanya terserah?”
Terus, sebenarnya
terserah itu apa?




