Pariwisata, sesuatu
yang tidak asing bagi telinga saya, tetapi sangat asing bagi otak saya. Ketika
telinga saya mendengar banyak orang yang bersilang pendapat tentang betapa
liciknya sekaligus betapa manisnya pariwisata, saya masih duduk santai sambil
menyeruput kelapa muda di pinggir pantai Nusa Dua, menganggap kontradiksi itu
wajar adanya. Bukankah memang segala sesuatunya memiliki positif dan negatif?
Asyiknya kesantaian
saya semakin terusik ketika bahkan pariwisata dianggap sebagai ilmu. Saya
semakin penasaran dengan ‘ilmu’ satu ini. Kalau ilmu lainnya muncul dan dapat
dibedah secara konkret, saya masih belum mengerti bagaimana bisa hanya karena
keinginan para wisatawan untuk bepergian dan bersenang-senang yang kemudian
dijadikan ilmu yang sebegitu rumit, teoritis dan pragmatis. Namun, para
peneliti ‘ilmu’ itu lebih memilih mengamati dengan seksama memakai teleskop
keilmuannya untuk mengkaji sikap, perilaku, persepsi bahkan dampak dari
kegiatan pariwisata itu. Ayolah, why so
serious? Mungkin para wisatawan, investor dan masyarakat itu ingin menari
sebentar menikmati merdunya alunan pariwisata. Bagaimana kalau kita menonton
mereka atau bahkan ikut menari?
Saya semakin terdampar
dalam ketidak-tahuan, sampai pada akhirnya rasa penasaran menggiring saya ke
ruangan ini, Magister Kajian Pariwisata. Suatu ruangan yang selalu digemakan
dengan pemikiran unik tentang pariwisata dan digaungkan dengan semangat
pemanfaatan pariwisata untuk menyejahterakan masyarakat.



